Posts

Kabar Kecil

 Keesokan harinya di sekolah, Doni datang dengan wajah yang lebih cerah dari biasanya. “Gue dapet izin ikut kursus gambar akhir pekan,” katanya. Siska langsung tepuk tangan kecil. Alya kelihatan ikut senang. “Berarti lo gak jadi pindah?” tanya gue. “Belum,” jawabnya. “Setidaknya sekarang orang tua gue mulai dengerin.” Itu bukan keputusan besar. Tapi rasanya cukup buat bikin semuanya sedikit lebih ringan.

Tulisan Pertama

 Suatu malam gue duduk di meja belajar dengan laptop terbuka. Biasanya gue cuma nulis di buku catatan. Tapi kali ini gue coba ngetik cerita gue sendiri. Bukan tugas sekolah. Bukan cerpen kelompok. Cuma cerita tentang empat pelajar yang lagi belajar ngerti arti mimpi. Gue berhenti sebentar, lalu senyum sendiri. Ternyata rasanya beda kalau nulis bukan karena tugas.

Hari yang Berubah

 Beberapa minggu berlalu setelah obrolan di tangga belakang sekolah itu. Kehidupan di kelas X-3 mulai kembali normal, tapi rasanya tetap ada yang berubah. Doni sekarang sering bawa buku gambar ke sekolah. Kadang pas jam istirahat dia duduk di lapangan sambil sketsa apa saja yang dia lihat. Siska makin sibuk latihan buat lomba akademik. Dia sering ke perpustakaan sampai sore. Alya juga mulai fokus belajar lebih serius. Katanya dia mau coba daftar program kelas sains tambahan. Gue memperhatikan semuanya dari jauh. Bukan karena menjauh, tapi karena gue mulai mikir tentang jalan gue sendiri.

Pertanyaan yang Menggantung

 Sore itu kita kumpul lagi di tangga belakang sekolah. “Menurut kalian,” gue mulai, “kalo nanti kita beda jalan, kita masih bisa kayak gini gak?” Gak ada yang langsung jawab. Angin sore lewat pelan. Alya akhirnya bilang, “Mungkin gak sama persis. Tapi bukan berarti selesai.” Doni nambahin, “Yang penting kita pernah ada di fase ini.” Gue liat mereka satu-satu. Dan untuk pertama kalinya, gue sadar… mungkin masa depan bukan soal tetap bersama selamanya. Tapi soal berani jalan, walau suatu hari harus beda arah.

Retakan Kecil Lagi

 Walau semuanya keliatan baik-baik aja, ternyata tekanan belum selesai. Siska mulai sibuk sama lomba akademik. Alya fokus persiapan tes tambahan buat masuk jurusan IPA unggulan. Doni masih berusaha meyakinkan orang tuanya. Gue? Gue mulai ngerasa takut ketinggalan. Takut kalo suatu hari nanti, kita gak lagi duduk bareng kayak sekarang.

Percakapan di Perpustakaan

Suatu siang, gue lagi di perpustakaan sendirian. Alya dateng, duduk di seberang gue. “Lo serius mau jadi penulis?” tanyanya. Gue mikir sebentar. “Iya. Walau masih takut.” Dia ngangguk. “Takut itu wajar. Yang bahaya itu kalo kita berhenti.” Obrolan itu sederhana, tapi entah kenapa bikin gue makin yakin.

Nilai yang Bukan Sekadar Angka

  Seminggu kemudian, nilai proyek diumumin. Bu Rini nyebutin nama kelompok kita dengan senyum tipis. “Nilai kalian A.” Kelas langsung ribut. Doni ketawa kecil, Siska hampir loncat dari kursi, Alya nutup mulutnya sambil senyum. Tapi yang bikin gue seneng bukan huruf A-nya. Yang bikin beda adalah prosesnya. Kita hampir pecah, tapi gak jadi.